Selasa, 24 Desember 2013

Sentiling (Jawa Tengah)





Jarang ketemu ubi yang bagus di sini. Nah sekalinya dapat langsung aja aku beli walaupun belum ada ide mau dibikin apa. Setelah searching resep, aku tertarik bikin sentiling. Selama ini bikin kue singkong biasanya yang menggunakan resep Sulawesi. Banyak juga macamnya, tapi belum pernah coba sentiling yang di dalamnya mengandung agar agar. Jadi penasaran. Resep aku lihat di mbak Diah Didi. Beneran kata mbak Diah, hasilnya enak, lembut karena ada agarnya dan manisnya pas. Suka deh. Tengkiuuu mbak Diah ^^

Resepnya sama persis, bentuknya aja yang beda. Kalau mbak Diah masing masing warna dikukus secara terpisah sedangkan aku, aku gabung semuanya dengan dikukus berteumpuk. Kukus merah dulu, habis itu tuang kuning, kukus lagi lalu terakhir hijau. Aku menggunakan cetakan kue sakura biar tampil beda...heh. Kelihatan kinclong banget ya? Kayak agar agar. Padahal nggak aku olesi minyak cetakannya. Tapi nanti kalau dipotong baru terlihat tekstur singkongnya.


Minggu, 22 Desember 2013

Cotton Cake Ketan Hitam




Hari ini aku coba bikin cotton cake ketan hitam. Tapi resep dari majalah Sedap ini tidak 100 % menggunakan tepung ketan tapi separuhnya menggunakan terigu. Hasilnya enak, wangi, moist dan super lembut khas cotton cake. Tapi rasa ketan hitamnya mild saja menurutku...ya mungkin karena ada campuran terigunya itu. Rasanya pun gurih seperti cake umumnya yang menggunakan mentega. Beda dengan cake ketan hitam yang memakai minyak. Minyak cenderung plain baunya sehingga memunculkan aroma khas ketan. Berikut ini resep dari Sajian Sedap ya...

Sabtu, 21 Desember 2013

Curry Puff...Tanpa Kari



Hari libur ini aku sudah niat mencoba lagi karipap pusing. Waktu itu aku pusing beneran karena penampakannya kurang memuaskan. Nah berbekal resep Bunda Fatmah Bahalwan aku mulai start bikin jam 3 siang. Cuma 1/3 resep. Tak diduga bikinnya cepat sekali. Setengah jam saja, karipapnya sudah bisa dinikmati. Tapi syaratnya isiannya dah dibikin duluan. Kali ini isiannya tidak menggunakan bumbu kari. Bukannya tidak suka, tapi anak anak lebih senang makan kari ayam beneran daripada makan kari ayam isian pastel...hehe. Jadi isiannya kentang, wortel, ayam cincang dengan bumbu bawang putih, bawang merah dan merica. Ditambahkan daun bawang dan seledri.

Alhamdulillah resep bu Fatmah sukses berusar-usar. Putarannya kelihatan benar. Rasanya juga oke banget. Kulitnya gurih dan renyah. Aku usahakan bikin kulitnya setipis mungkin supaya cantik dan seimbang dengan isinya. Aku juga tidak suka kulit pastel yang terlalu tebal. Tapi masih ada beberapa yang terbuka sewaktu digoreng. Cuma dua biji sih. Lumayanlah tuk percobaan kedua ini. Aku rasa karena terlalu tipis gilingnya, sebagian adonan menteganya lengket di silicon matku. Jadi bolong adonan kulitnya.


Caranya mengisi filling juga tidak boleh terlalu penuh, karena ketika kita merapatkan ujung ujungnya kita cenderung menarik adonan supaya saling bertemu. Jadi kalau isiannya terlalu banyak, tarikannya juga terlalu banyak sehingga sambungan kulit yang berlapis lapis itu jadi lepas yang berakibat ketika digoreng jadi pecah. Satu tip supaya lapisan kulitnya banyak, ketika digiling harus sepanjang mungkin. Semakin panjang adonan semakin banyak gulungannya dan semakin banyak pula lapisan yang tercipta.

Karena isiannya masih sisa aku bikin lagi 1/3 resep. Kali ini menggunakan resep mbak Vivi "Jajane Vivi". Alhamdulillah jadi juga. Hasil kulitnya renyah dan cenderung agak rapuh. Tapi rapuhnya bukan gampang hancur melainkan lebih ringan. Aku duga karena penggunaan lemak yang berbeda pada kedua resep. Resep bu Fatmah menggunakan margarin dan minyak. Resep mbak Fifi menggunakan margarin dan mentega putih. Kalau rasa, lebih gurih resep kulit bu Fatmah karena selain menggunakan margarin dan minyak beliau juga menambahkan sedikit gula pasir ke dalam adonannya. Untuk tekstur keduanya sama sama renyah dan bertahan lama renyahnya hanya punya mbak Fifi lebih ringan kulitnya. Keduanya punya kelebihan masing masing. Sewaktu mengerjakan adonan juga adonan mbak Fivi lebih mudah dihandle karena telah diistirahatkan selama 15 menit. Oh iya satu lagi...ketika mengerjakan adonan, untuk menghindari adonan melengket di matku aku taburi tipis tepung terigu. Mau tau hasilnya?? ketika digoreng kulitnya muncul sedikit gelembung kecil seperti pastel biasa. Sekedar sharing saja ^^

Over all aku puas sama kedua resep. Walaupun menurutku dari penampakan belum bisa sama persis sama punya mbak Fifi dan Bu Fatmah tapi rasa penasaranku sudah terobati. Satu lagi resep berhasil aku taklukkan. Cieeeeee...

Untuk Bunda Fatmah dan mbak Fifi terima kasih tuk inspirasinya...semoga barokah ya.







Kamis, 19 Desember 2013

Brownie Pie




Brownie Pie adalah pie dengan perpaduan brownies sebagai fillingnya. Kulit pie yang renyah bertemu brownies yang lembab dan nyoklat harusnya sih enak ya...aku juga membayangkannya begitu. Setelah aku buat rasanya kata anak-anak sih enak, tapi aku lebih suka makan brownies apa adanya tanpa pie sebagai crustnya...atau makan pie sebagai pie buah atau cheese pie lebih enak. Pie cokelat juga enak, aku dah pernah bikin dulu. Mungkin juga perpaduannya kurang seru karena aku membuatnya dalam ukuran mini sehingga kelembaban browniesnya berkurang. Sewaktu masih panas browniesnya agak moist. Tapi ketika dingin cenderung kering. Mungkin kalau dibuat dalam ukuran besar akan terasa nikmat cokelatnya. Kalau yang aku buat ini rasanya setengah setengah...hehe. 

Resepnya bisa menggunakan resep pie atau brownies favorit. Aku menggunakan kulit pie buah yang biasa aku bikin dengan paduan brownies cappucino. Kalau ingin tau resepnya bisa di cek di label "pie" dan "brownies".







Selasa, 17 Desember 2013

Lapis Legit Anyam



Dulu sekali pernah bikin lapis legit roll. Pede aja bikinnya karena nggak setebal lapis legit umumnya. Malas membayangkan lamanya melapis menggunakan oven api atas. Dibikin cuma 3 lapis setelah itu digulung dan terlihat lebih tebal. Nah kali ini tertarik bikin lapis legit anyam. Whaaat?? Berani beraninya ya? lapis legit standar aja belum pernah bikin eh ini mau bikin yang anyam. Terdiri dari 2 buah lapis legit setebal 4 lapis ditambah 2 buah lapis moka setebal 4 lapis pula. Tapi disusun sedemikian rupa sehingga terbentuk motif seperti anyaman. 

Setelah mengumpulkan mood, hari ini aku eksekusi resep dari Sajian Sedap. Aslinya adalah lapis anyam cokelat putih, tapi karena aku kehabisan cokelat pasta, aku pakai saja moka pasta. Warnanya tentu saja tidak secoklat cokelat pasta ya. Tapi nggak apa apa yang penting kelihatan sedikit perbedaan warnanya.

Lumayan lama dan membutuhkan ketelatenan tapi selesai juga. Walaupun nggak serapi punya Sajian Sedap aku sudah puas sekali. Rasanya jangan ditanya. Legit, wangi spekkuk berpadu wangi moka tipis saja, pokoknya super deh. Tapi nggak berani makan banyak banyak secara kue ini menghabiskan 30 butir kuning telur, 250 gula pasir dan 400 gr butter + margarin. Kebayang kolesterolnya bu ibu?? hubby, aku, dan Iyut dijatah satu potong. Sepotong itu ukuran 12 x 5 x 1 cm lho. Lumayan besar...dan mengenyangkan karena manis. Tapi Hanif boleh makan 2 potong soalnya dia imut...lagian kue ini memang favoritnya. Cukup hari ini besok besok lagi baru berani sentuh lagi. Alhamdulillah...



Rabu, 11 Desember 2013

Calamansi Roll Cake


Kan kemarin masih ada sisa jeruk calamansinya beberapa biji. Aku ada ide buat ditambahkan ke bolu gulung. Suka sekali sama aromanya di cake calamansi kemarin. Kebetulan aku buatkan kue ini tuk bapakku yang mau balik ke Makassar. Beliau sukanya kue yang ada aroma asam segarnya. Jadi tuk fillingnya aku kasih manisan prune dan selai strawberry. Kelihatan kan di gambar...jadi lucu juga motifnya ^^

Resep bolu gulung sama dengan marble roll kemarin pake resepnya mbak Dida Rachmadiah. Cuma susu cair aku ganti dengan air jeruk calamansi +1 sdm parutan kulitnya. Asli wangiiii...ada asem manis dari fillingnya juga.



Sabtu, 07 Desember 2013

Calamansi Cake (Cake Lemon Cui)



Lagi bingung...di rumah lagi banyak lemon cui. Kemarin diambilkan tukang kebun dari rumah kosong di sebelah. Sudah  dibuat jus nggak habis habis. Aku cari di google apa saja olahan lemon cui. Ternyata banyak juga yang dibuat cake. Dibikin calamansi curd juga bisa.Tapi hari ini aku tertarik bikin cake yogurt lemon cui. Sayangnya di rumah nggak ada yogurt. Aku ganti dengan susu cair saja. Di resep aslinya kelihatan kuenya yang lembut dan moist. Udah kebayang bayang juga wanginya.

Setelah jadi, nggak sabar langsung aku icip sedikit. Aromanyaaaa...asli wangi. Mirip mirip dengan aroma jeruk sunkist tapi menurutku lemon cui ini lebih wangi. Bahkan ketika masih di oven baunya sudah keluar. Anak anak pun gak sabar. Tergodaaaa....
Rasanya enaaaaaak sekali. Pake banget. Asli enak karena kami berempat serentak bilang enak begitu mencicipinya. Walaupun lemon cui segar rasanya sangat asam, tapi di kue ini tidak ada jejak asam sama sekali. Penampakan teksturnya sedikit berbeda dengan yang di resep asli. Walaupun punyaku lembut dan ringan tapi tidak semoist yang menggunakan yogurt. Menurutku teksturnya selembut  Mrs.Ngsks Butter Cake yang menggunakan teknik kocok pisah kuning dan putih. Gini aja dah enak banget, apalagi kalo dikasih yogurt ya? InsyaAllah lain kali coba lagi, kebetulan masih banyak lemon cuinya...

Resepnya aku ambil dari Sotong Cooks. Sama persis hanya yogurt aku ganti susu cair. Di bawah ini aku catatkan resep aslinya ya...

Jumat, 06 Desember 2013

Puding Cake Bermotif




Di kulkasku ada sisa kue cokelat kukus. Mungkin ada 2 minggu di freezer dan udah aku hancur hancurkan karena rencananya mau dibikin cake pop. Eh buka Sajian Sedap malah jadi pingin bikin puding. Tapi gimana cakenya udah terlanjur ancur. Dapat ide untuk taruh di cetakan puding setengah lingkaran. Aku padat padatkan aja, ternyata bisa juga walaupun nggak begitu rapi. Setelah itu aku bekukan dulu di kulkas supaya kalau dituangi agar agar, cakenya gak berhamburan. Nuang agar agarnya juga pelan saja, sesendok demi sesendok. 

Resepnya bisa lihat di Sajian Sedap ya. Cuman aku nggak ada lapisan puding cokelatnya. Setelah cake langsung lapisan agar agar putih. Harus sabar dituang selapis demi lapis dan ditambahkan motif cokelatnya. Menurutku sebaiknya ikutin resep asli supaya lebih cantik dan ada pembatas antara cake cokelat dan agar putih biar gak nyampur ketika dituang.

Untuk membentuk motif puding cokelat, aku gunakan tutup botol sirup. Caranya dikeruk memanjang. Hasilnya bisa keriting gitu. Cantik ya. Cuman lapisan agar putihnya kelihatan. Bagian yang paling pertama dituang warnanya masih putih. Belakang belakangnya jadi putih pudar...kenapa bisa gitu ya? mungkin karena agarnya mengandung susu dan ketika mendidih susunya pecah. Nah bagian yang kentalnya lari ke atas. Apa benar begitukah teman teman?? tau deeeeeh *garuk garuk kepala*

Selasa, 03 Desember 2013

IDFB Special Challenge : Show Your Kitchen


Ketemu lagi dengan challenge bulanan IDFB. Untuk tantangan kali ini, IDFB bekerja sama dengan MR. Muscle dan Sajian Sedap mengadakan challenge dengan tema "show your kitchen". Kita tidak diminta menyetorkan masakan seperti biasa. Kita diajak untuk memperlihatkan dapur di mana kita berkreasi. Kita tau kan, semua masakan dan kue kue dihasilkan di dapur kita. Tentu saja di balik makanan makanan yang lezat itu ada dapur yang kotor. Iya...bergelut di dapur, selain menghasilkan cucian piring yang banyak juga menyebabkan dapur kotor. Apalagi komporku warnanya putih. Kalau ada kotoran terlihat dengan jelasnya.Terlebih lagi kalau bersihinnya ditunda tunda sampai nodanya berkerak.

Tapi sekarang tidak perlu khawatir lagi. Karena sudah ada Mr. muscle pembersih dapur. Bisa membersihkan keramik dapur, kompor, bak cuci piring, meja makan, lemari dapur, bahkan lantai dapur. Sejujurnya sebelum tantangan ini aku belum pernah pake Mr. Muscle. Biasanya pakai sabun cuci saja. Ternyata setelah menggunakan Mr. Muscle lemon power semua jadi lebih efisien. Dapur bersih, bebas minyak tanpa perlu basah-basah. Cukup diseka dengan lap atau spon. Hasilnya dapur bersih dan wangi. Bakalan jadi pembersih andalan nih.

Nah untuk komporku, cara membersihkan sangat mudah. Cukup semprot kerak kerak yang menempel, biarkan beberapa saat lalu lap hingga kering. Gampang kaaaaaannn....

Di bawah ini penampakan kompor setelah baking muffin cokelat dan masak gulai ikan. Kotor yaaa...




Semprot-semprot Mr. Muscle....







Langsung kinclong kan....dapurku kembali bersih sehingga tambah semangat deh masak dan baking bakingnya...terima kasih Mr. Muscle!









Minggu, 01 Desember 2013

Karipap Pusing VS Jalang Kotek...





Sudah lama kepincut sama karipap pusing yang populer di Malaysia ini. Apalagi liat punyanya mbak Vivi yang cakep banget layer kulitnya tambah pengen buat. Masalahnya di tempatku ini nggak ada mentega putih yang bagus. Aku pernah beli setelah digunakan after tastenya di mulut nggak enak banget. Rasanya ngendal di lidah dan langit langit. Memang dijualnya kemasan plastik. Kata penjualnya dia kemas sendiri. Nggak tau merknya apa. Nah itupun sisa banyak dan terbuang aja karena lama nggak terpake dan kadaluarsa. Mentega putih kan jarang digunakaan dalam pembuatan cake. Paling paling dulu aku bikin untuk bakpia atau bakpau supaya putih tapi sekarang dah dapat resep yang bagus dan nggak pake itu lagi. 

Akhirnya aku memutuskan untuk nyontek resepnya Mbak Widya Wijanarti dari majalah Martha Stewart Indonesia. Di situ juga lengkap disertakan step by stepnya. Penampakan di kulitnya agak berbeda dengan punya mbak Vivi. Mungkin karena penggunaan lemak yang berbeda. Mbak Vivi pake mentega putih sedangkan Mbak Widya menggunakan margarin. Kalau di rasa mungkin enak margarin ya, tapi di warna dan tekstur kulitnya agak beda. Kelihatan yang mentega putih lebih kering hasil kulitnya. Layernya jadi kelihatan jelas juga.

Setelah aku buat, hasilnya memang mirip punya mbak Widya. Jelas cantikan punyak mbak Widya ya...dah masternya gitu loooh...hehe. Kulitnya renyah tapi kurang keluar tekstur/motifnya walapun hasilnya berlapis lapis juga. Dan entah aku melakukan kesalahan di step yang mana...punyaku banyak yang pecah sewaktu digoreng. Daripada terbuang-buang karena nggak bisa dimakan (berminyak sangat) akhirnya inisiatif aku dipanggang aja. Ternyata enak juga. Malah si Hanif suka yang di panggang. Cuma di kulitnya agak keras hasilnya. Isiannya aku bikin dua macam. Satu ayam kari dan satu lagi daging soalnya hubby nggak makan ayam. Resep ayam kari ikut mbak Widya tapi tunanya aku ganti ayam suwir. Berikut resep aslinya dari Majalah Martha Stewart Indonesia :


Senin, 25 November 2013

Kerupuk Jintan...







Pemandangan yang indah disaksikan tiap hari bukan...?? Alhamdulillah mendapat view yang cantik ini. Rumah kami terletak di dataran yang tinggi dan di depannya terbentang tiang listrik yang panjang. Nah tiang ini ternyata menjadi persinggahan burung burung cantik yang tinggal di sekitar sini. Tiap hari ada saja burung yang singgah. Unik dan cantik cantik bentuknya. Selain itu kicauannya lucu dan beragam. Ramai sekali. Sayang kameraku bukan kamera zoom ya jadi harus dicrop maksimal biar kelihatan figurenya yang cantik itu...

Yap cukup dulu gambar gambar burung cantiknya, sekarang beralih ke resep yang aku share hari ini. Kerupuk jintan. Kenapa dinamakan kerupuk padahal bentuknya sama sekali nggak tipis kayak kerupuk pada umumnya? Nah jajanan yang satu ini adalah camilan khas dari daerah Sulawesi Selatan. Kalau mamaku yang orang Makassar menyebutnya kerupuk jintan sedangkan di beberapa daerah lain di Sulawesi Selatan malah ada yang menyebutnya roti jintan. Nah lho.... 
Memang teksturnya tergantung cara pengolahan masing masing orang. Kalau digoreng lebih lama maka akan tercipta snack yang renyah tapi kalau digoreng sebentar saja asal kuning maka teksturnya berubah jadi renyah di luarnya tapi empuk di dalamnya. Disebut kerupuk karena renyah seperti kerupuk dan disebut roti karena empuk empuk asyik...hehe. Tapi hati hati salah mengolah bisa berakibat gigi patah lho. Iya tak jarang aku membeli kerupuk jintan yang ketika digigit kerasnya bukan main. Kayaknya ada yang salah dalam pengolahannya. Kata mama adonan nggak boleh diulen seperti roti. Cukup agar menyatu saja. Gorengnya pun dengan api sedang. Kalau menggunakan api kecil maka menggorengnya akan butuh waktu yang lama menghasilkan kerupuk yang sangat keras ketika dikunyah.

Bahannya biasa saja, cuma campuran tepung, margarin, telur, vanili dan potasa...begitu ibu ibu asli sini menyebut baking soda atau soda kue. Yang unik adalah penambahan jintan hitam di dalamnya. Jintan hitam atau habbatussauda ini rasanya dan aromanya khas. Sama sekali beda dengan jintan bumbu dapur yang biasa dipakai sebagai pelengkap bumbu kari. Penampakannyapun mirip wijen tetapi lebih tebal. Kalau dikunyah sedikit ada sensasi wangi dan pahit bercampur jadi satu. Tapi ketika dicampurkan ke dalam adonan...luar biasa, wanginya naik dan rasanyapun enak. Di pasar tradisional di sini ada yang menjualnya, tidak tau kalau di tempat lain ya. Biasanya sih yang umum dijual untuk suplemen kesehatan adalah minyaknya. Khasiat kesehatannya banyak sekali. Rasulullah Muhammad SAW sendiri berkata, habbatussauda adalah obat segala macam penyakit kecuali kematian. Tapi dalam pengolahannya ke camilan ini gak tau kalau masih ada kandungan gizinya ya, masalahnya ini snack goreng ya teman teman. Gizinya berbanding lurus dengan efek buruknya...hehe. 

Berikut aku share resep mamaku ya. Menggunakan ukuran gelas atau cangkir/cup. Satu resep ini menghasilkan sekitar 2 kg kerupuk jintan. Jadi aku bikin separuhnya saja dari resep di bawah ini. Nggak sanggup ngebentuknya sendirian. Lama euy...

Minggu, 24 November 2013

Cake Lapis Pandan Ketan Hitam


Masih ada sisa home-made pasta pandan sujiku kemarin sisa bikin bolu gulung. Rencananya akan kuhabiskan untuk bikin cake kukus ini. Aku tertarik dengan kombinasi rasa pandan dan ketan hitam. Apakah memang keduanya cocok disandingkan bersama??

Resep aku lihat di Tabloid Bintang. Sama persis cuma aku skip penggunaan emulsifier. Pingin lihat teksturnya di kue ini. Sewaktu mengocok telur dan gula bisa sampai kental berjejak (aku pake mixer Bosch) tapi setelah minyak dan santan turun adonan mulai agak encer. Cepat cepat aku masukkan kukusan yang mengepul ngepul asapnya. Begitu juga adonan pandannya. Ketika masuk cairan santan dan pandannya adonan jadi encer dan banyak gelembung gelembung udaranya. Mungkin karena santannya bukan santan kemasan yang super duper kental. Tapi ternyata hasilnya lumayan. Tetap ngembang walaupun nggak banyak tapi nggak bantat sama sekali. Ketika masih panas lapisan ketan hitam agak kenyal dan tidak seringan adonan pandan. Lapisan pandan ringan dan berongga. Permukaan adonan pandannya kayak permukaan bulan yang keropeng...hehe. Seperti kalau aku bikin brownies kukus Ny. Liem juga. Biasanya kalau kue panggang tidak seperti itu hasilnya. Beda dengan kue kukus. Dugaanku mungkin karena beda prosesnya. Kalau pemanggangan oven, loyang panas secara perlahan dari dasar menuju permukaan jadi rongga halusnya hanya muncul di dalam kue saja. Sedang kalau dikukus, panas kukusan maksimal...asap kukusan memenuhi dandang sehingga proses pematangannya permukaan kue terjadi cepat. Gelembung udara yang terdapat di permukaan kue segera pecah begitu terkena panas. Kalau tekstur dalam cake nggak kelihatan rongganya tapi di permukaannya sangat terlihat. Ya kayak permukaan bulan tadi itu ^^

Soal rasanya menurutku keduanya punya rasa enak yang khas. Yang ketan khas rasa ketan hitam, agak berpasir dan legit sedang pandan khas wangi pandan asli. Warnanyapun cantik. Tapi ketika digigit bersamaan yang dominan rasa ketan hitamnya. Kalah rasa pandannya. Kayaknya enak banget kalau cake pandannya dibikin sendiri tanpa ketan hitam lalu diberi buttercream atasnya dan taburan keju. Yuuuuummm...nanti kapan kapan pingin bikin lagi deh.






Sabtu, 23 November 2013

Puding Santan Gula Merah




Udah lama nggak bikin puding ini. Walaupun jadul tapi tetap disuka. Simpel tapi kaya rasa. Bahannya mudah dicari dan proses bikinnya mudah. Untuk membuat puding ini kita biasanya menggunakan gula merah. Gula merah di tempatku sini ada dua macam. Ada gula kelapa  dan ada gula aren. Nah biasanya gula aren rasanya manis dan warnanya tidak terlalu coklat. Sedang gula kelapa warnanya lebih gelap dan rasanya manis ada jejak asin/gurihnya. Ngga tau apakah pada proses pembuatannya ditambahkan garam atau memang rasanya seperti itu. Nah karena kali ini aku menggunakan gula kelapa, aku tidak menggunakan tambahan garam lagi karena rasanya yang sudah pas.

Kamis, 21 November 2013

Bolu Gulung Marmer Pandan Coklat





Resep bolgul ini aku lihat di blognya mbak Nien Ing "Umek di Dapur". Aslinya resep mbak Dida Rahmadiah tapi udah dimodifikasi dengan diberi motif oleh mbak Nien. Motif bolgulnya mbak Nien cantik, kelihatan lapisan hijau cokelatnya. Lha kok punyaku jadi amburadul gitu ya. Memang menurutku adonan yang aku bikin nggak bisa kental banget. Walaupun dah lama dikocok cuman bisa kental aja gak sampai berjejak. Memang sih cara buatnya agak beda dikit karena semua bahan kecuali margarin dikocok sekaligus sampai mengembang. Emulsifiernya aku pake cuma 1 sdt. Apa mungkin karena itu ya. Padahal kocoknya dah speed tinggi. Hasilnya ketika adonan dituang adonan bergerak cepat langsung meleber ke samping samping seakan akan mau nyampur. Nah ketika keluar dari oven beginilah bentuknya. Jadinya marmer bukan zebra. Aku masih belum puas. InsyaAllah lain kali dicoba lagi deh. Tapi rasanya enak banget. Wangi pandan. Isiannya aku beri selai strawberry.

Resep mbak Nien menggunakan susu cair. Karena aku ingin merasakan aroma pandan asli aku ganti susu cair dengan pasta pandan home-made. Kalau pake air pandan saja nggak akan berasa karena penggunaannya cuma 20ml. Kali ini tuk warna hijaunya ke dalam belenderan pandan aku tambahkan suji. Jadi dapat harumnya dapat pula warnanya. Untuk cokelatnya aku beri coklat pasta yang dibuat dari coklat bubuk diberi sedikit air hingga menjadi pasta.




Cara membuat pasta pandan/suji, blender 7 lembar pandan dan 30 lembar daun suji dengan 200 ml air. Simpan dalam wadah dan taruh di kulkas selama empat hari. nanti padatannya mengendap di bawah. Itu yang kita ambil tuk dijadikan pasta. Untuk pandan pasta bisa lihat di sini cara bikinnya.





Gulai Siput Danau






Baru kali ini aku sharing resep makanan yang hasilnya tidak aku konsumsi sendiri. Lho kenapa?? 

Ceritanya kemarin minggu aku ke pasar subuh. Belanja belanja...eh ditawarin siput danau sama ibu penjual. Katanya enak dan banyak gizinya. Selain itu bisa juga mengobati berapa jenis penyakit. Aku tertarik sebenarnya bukan karena khasiatnya, tapi karena penasaran sama rasanya. Seumur umur belum pernah cicip dan memang keluarga kami tidak pernah mengkonsumsinya. Lain halnya dengan penduduk asli Sorowako yang sudah biasa menjadikan ini sebagai lauk mereka.

Sesampai di rumah aku rendam dulu siputnya semalaman tuk mengeluarkan kotoran dan endapan pasirnya. Lalu aku masak gulai seperti biasa. Sambil masak aku icip icip kuahnya apakah kurang bumbu. Nah setelah matang aku diamkan dan rencananya buat makan besok pagi. Besoknya ketika bangun pagi kok banyak bintik bintik merah di badanku khas kalau lagi kena alergi. Waaaaaah langsung deh tersangka utamanya si gulai siput. Padahal tadi malam cuma icip icip kuahnya. Jadinya gak berani lanjut makan lagi deh. Nggak berani tawarin ke hubby dan anak anak juga. Jadi kalau gitu siapa yang makan doooonggggg. Sewaktu tukang cuci datang aku tanya apakah dia biasa mengkonsumsi siput danau. Katanya iya, dan keluarganya suka sekali. Menurutnya siput danau bisa mengobati penyakit usus buntu. Dia mau banget aku tawarkan gulai tersebut. Besoknya aku tanya lagi gimana kabarnya. Katanya, "Enak kok bu, kami sekeluarga suka...saya juga nggak alergi." Alhamdulillah kalau gitu. Nggak jadi buang makanan. Hikmahnya, lain kali jangan suka coba makanan yang belum pernah dimakan sebelumnya ya apalagi kalau tampangnya tidak meyakinkan....kwkwkwkwkkwkwk

Nah karena insiden ini aku nggak share resepnya ya. Cuman sharing aja kalau kejadian ini bisa menimpa kita. Lain kali harus lebih berhati hati dalam mengkonsumsi makanan yang tidak familiar.


Kamis, 14 November 2013

Lapis Jongkong (Jawa Timur)




Alhamdulillah...akhirnya bisa juga bikin lapis jongkong ini. Sudah lama pingin bikin apalagi sering diiming-imingi jajanan tradisional bermerang oleh mbak Diah Didi. Tapi terkendala merang yang memang nggak ada di sini. Sebenarnya bukan nggak ada merang, tapi karena di sini Sulawesi, jadi jarang ada orang yang memanfaatkan merang untuk dibuat kue seperti di Jawa. Nggak kepikiran mau diolah lagi jadi apa. Nah kebetulan ada teman suami yang tinggal dekat sawah...dimintai tolong mengambilkan sedikit merang untuk dijadikan abu. Demi memenuhi ngidam istri temannya untuk bikin kue bermerang...datanglah beliau esok harinya  membawa sekarung merang padi. Senangnya. Segera aku cuci bersih dan jemur. Besoknya aku bakar dan saring hingga menjadi abu. Akhirnya jadi deh merangnya. Alhamdulillah.

Nah, aku bikin lapis jongkong ini mengikut resepnya mbak Lukie, karena menggunakan loyang kotak. Awalnya ingin mengikuti resep mbak Diah yang beda tipis dengan punya mbak Lukie tapi beliau menggunakan cucing plastik. Sedangkan aku mau menggunakan loyang kotak biar cantik ketika diiris. Aku praktek separuh resep aja dari resep Mbak Lukie. Beliau menggunakan loyang kotak 24x24x7cm sedangkan aku menggunakan loyang brownies 22x10x7cm. Adonan jadinya setelah disaring sebanyak 900ml, aku bagi dua warna jadi masing masing 450 ml. Aku tuang bergantian sebanyak 75 ml jadinya setinggi 7 lapis hijau dan 7 lapis hitam. Beda dikit sama punya Mbak Lukie.

Senang sekali karena bisa mendapatkan pewarna alami merang, pandan dan suji. Asli nggak pakai tambahan pewarna. Cantik warnanya. Ini juga sekalian uji coba pertamaku bikin lapis beras. Kemarin marin dah coba lapis kanji, lapis terigu dan lapis hunkwe.

Rasanya enak sekali, secara aku memang penggemar kue tradisional. Aroma pandan suji dan merangnya pas banget. Ternyata walaupun warnanya hitam sama sekali gak berasa gosong. Malah menyumbang aroma khas merang. Hubbypun habis banyak, enak siiiihhhh...

Resep di bawah adalah separuh dari resep Mbak Lukie. Gulanya aku kurangi sedikit saja menuruti saran mbak Lukie. Garamnya aku tambahkan jadi 3/4 sdt. Hasilnya pas. Manis dan gurih yang tidak berlebihan. Yummiii pokoknya apalagi dengan taburan kelapa yang gurih. Terima kasih tuk MBak Diah dan Mbak Lukie tuk inspirasinya.

Selasa, 12 November 2013

Chocolate Pistachio Biscotti



Gara gara lihat gambar biscotti teman teman berseliweran di FB, aku juga jadi penasaran bikin. Penasaran sama tekstur dan rasanya. Apa bedanya dengan kukis biasa. Yang aku tau aslinya biscotti ini adalah kukis Italia yang dipanggang 2 kali. Maksudnya adonan utuh yang dibentuk bulat panjang dipanggang terlebih dahulu kemudian nanti setelah dipotong potong dipanggang lagi sampai agak kering. Sengaja dibuat lebih keras dan tidak serenyah kukis biasa. Karena makannya dinikmati sambil menyeruput kopi or susu.

Nah resep yang berhasil menarik perhatianku adalah resepnya Martha Stewart yang sudah dimodifikasi oleh Jennifer "Use Real Butter". Suka warna kontras dari cokelat dan hijaunya pistachio. Kebetulan di rumah juga masih ada pistachio. Tapi aku kurangi separuh pistachio dari takaran aslinya. Ngikutin sarannya Jen, terlalu banyak kacang dan coklat chip membuat kukisnya susah dipotong dan beremah. 

Rasanya enak menurutku. Nggak terlalu manis dan buttery seperti kukis biasa. Malah kalau mau dibandingkan...seperti membandingkan cupcake dan muffin. Nah biscotti ini si muffinnya. Kalau testimoninya Iyut, "Enak bu, tapi rasanya tidak terlalu menarik." Haaahhhh ??? Iyut dah bisa komen kayak begitu?? Aku tau dia penggemar camilan gurih dan manis, sehingga menurutnya ada yang kurang pada kukis ini karena tidak manis dan tidak gurih. Walaupun begitu habis juga dimakan sama dia. Aku  juga suka. Sambil dicelup dalam teh manis *nggak sesuai gambarnya yang dinikmati bersama susu* hehe. Menurutku luarnya renyah tapi dalamnya cenderung empuk. Mungkin memang resep ini agak berbeda dengan resep biscotti lain ya...aku juga nggak tau.




Yang di bawah ini masih daam bentuk asli  sebelum dipotong potong.




Rabu, 06 November 2013

Lumpur Singkong




Lama gak posting resep niy...kemarin habis cuti ke Makassar-Malang selama seminggu. Kangeeeen dapurku. Hari ini aku buat kue lumpur singkong. Resepnya dapat di Majalah Muzakki. Yang punya resep "Bynsa Cake". Awalnya ngiler berat...membayangkan kue lumpur yang unik dari singkong. Setelah baca baca resep...lho bahannya seperti membuat kue bingka singkong. Sama sekali beda cara dan bahan dengan kue lumpur. Tapi karena orang yang punya resep kasih nama kue lumpur, aku ikut aja yaaaa.

Beneran setelah dicoba rasanya seperti perpaduan kue bingka dan sentiling. Suka sama teksturnya yang kenyal ringan. Wangi karena ada margarinnya. Tidak terlalu manis. Dari resep asli yang menggunakan sekilo singkong...aku bikin seperempatnya aja. Karena dari sekilo singkong yang aku beli cuma 250 gr saja yang bagus...hehe. Jadinya cuman 12 buah saja. Resep asli aku konversi ke gram ya.

Senin, 28 Oktober 2013

How Time Flies...



Tepat hari ini alhamdulillah pernikahan kami genap 12 tahun. Anak anak sudah tumbuh besar. Iyut 11 tahun dan Hanif 9 tahun. Tak terasa waktu berjalan...kemarin serasa masih merangkak rangkak...eh sekarang sudah malu kalau dipeluk ibunya. Apalagi Iyut, tingginya dah sama sama aku. Beratnya bahkan lebih berat dari aku. Malah ibunya dah bisa digendong, hahaha. Nggak lama lagi masuk SMP dan mungkin melanjutkan sekolah di luar. Ya Allah sepinya...kalau anak anak sudah sekolah di luar semua. Apa yang aku bikin di rumah ya???

Sebenarnya pingin nambah anak lagi. Tapi hubby nggak tega. Karena kata dokter kandungan, rahimku tipis sekali. Takut nanti robek ketika hamil berikutnya. Sewaktu melahirkan anak kedua secara caesar, saking tipisnya rahimku...rambut Hanif sudah terbayang bayang nempel di dinding rahimnya. Bukan karena pengaruh kedua anakku lahir sesar...bukan pula karena tubuhku yang mungil. Tapi memang ada kondisi dimana rahim menjadi tipis. Dan sangat beresiko untuk kehamilan berikutnya. Istilahnya seperti meniup balon, semakin ditiup...semakin besar dan tipis. Memang segala sesuatu Allahlah yang mengatur, bukan tidak mungkin kami bisa punya anak lagi kalau Allah berkehendak. Tapi tetap saja kami mempertimbangkan saran dokter kami. Begini saja sudah Alhamdulillah banget...sudah punya dua jagoan. Alhamdulillah mereka sehat, pandai dan lucu. Mereka adalah penyejuk mata dan hati kami. Walaupun hadeeeeh kadang bandelnya minta ampuuuuuun. Tapi justru itulah yang membuat ramai rumah kami. Hehe ^^

Subhanallah ya. Lihat foto di bawah...nggak nyangka suatu saat anak kecil dari Malang ini ketemu anak Makassar ini dan berjodoh. Hahaha...





Katanya orang, Iyut wajah Jawa sedangkan Hanif wajah Sulawesi. Ah masa sih...

Iyut





Hanif




Kamis, 24 Oktober 2013

Bolu Kukus Labu Ubi Ungu




Masih ada sisa labu kukus dan ubi ungu kukus...dikaryakan jadilah kue ini. Resepnya lihat di Mbak Diah Didi. Aslinya beliau pake cokelat tuk lapisan atasnya...tapi aku ganti dengan ubi ungu. Dua gambar di atas menggunakan filling mises. Menurutku rasa misesnya mengalahkan rasa labu dan ubinya. Tapi adonan yang lain aku tuang di loyang brownies tanpa tambahan cokelat mises. Bener ...dari segi aroma dan rasa kerasa ubi dan labunya. Lembut walaupun tanpa emulsifier. Tadi pake telur yang fresh dan ngocoknya pake mixer kecepatan tinggi. Tapi karena aku buat dua adonan, satu ubi dan satunya labu walhasil sebagian ngantri. Kelihatan di gambar di bawah, adonan labunya agak padet. Tapi tetap enak kok...



Related Posts with Thumbnails