Tampilkan posting dengan label Makassar. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label Makassar. Tampilkan semua posting

Kamis, 19 Juni 2014

Pisang Hijau



Karena dapat resep pisang hijau dari mbak Atyk Murtiningsih yang kayaknya dari segi tekstur lebih enak, penasaran langsung bikin hari ini. Cara bikin mirip aja kayak resepku terdahulu. Dari segi bahan beda karena yang ini menggunakan tepung terigu plus tapioka. Udah kebayangkan teksturnya pasti agak kenyal kenyal. Dari segi efisien tentu saja karena tidak perlu dikukus lagi. Setelah dibentuk bisa disimpan dalam lemari es.

Setelah nyobain aku puas sama hasilnya. Walaupun bikinnya belum bisa semulus mbak Atyk...sudah lumayanlah. Rasanya maksnyusss...itung itung latihan buat persiapan takjil  ramadhan nanti. Tengkiuu mbak Atyk tuk resep resep inspiratifnyaaa...muaaachh
Untuk vla aku tetap menggunakan resepku ya.

Bahan pisang hijau :
- 250 gr tepung terigu
- 100 gr tepung tapioka
- 1 sdt garam
- 3 sdt gula
- 700 ml santan
- 50 ml air pandan suji
- 3 sdm minyak
- 1 sisir pisang raja yang matang sekali (kulit sudah berbintik hitam), kukus

Saus (larutkan dan masak semua bahan sampai meletup-letup) :
- 1200 ml santan dari 1 butir kelapa
- 150 gr tepung beras
- 1/2 sdt garam
- 200 gr gula pasir (or sesuai selera)
- 2 lmbr daun pandan

Cara membuat :
  1. Larutkan tepung terigu, tepung tapioka, gula, garam, minyak, air pandan dan santan sampai halus tidak bergerindil. Kalau perlu disaring.
  2. Tuang di talam lalu kukus sekitar 15 menit sampai matang.
  3. Panas-panas pipihkan menggunakan plastik agar tidak melengket. Supaya lebih mudah gunakan sendok plastik (sendok nasi rice cooker) untuk membantu. Beri isi pisang lalu tutup dan bentuk seperti pisang.
  4. Siap disajikan bersama vla, sirop merah dan es serut.

Minggu, 01 Desember 2013

Karipap Pusing VS Jalang Kotek...





Sudah lama kepincut sama karipap pusing yang populer di Malaysia ini. Apalagi liat punyanya mbak Vivi yang cakep banget layer kulitnya tambah pengen buat. Masalahnya di tempatku ini nggak ada mentega putih yang bagus. Aku pernah beli setelah digunakan after tastenya di mulut nggak enak banget. Rasanya ngendal di lidah dan langit langit. Memang dijualnya kemasan plastik. Kata penjualnya dia kemas sendiri. Nggak tau merknya apa. Nah itupun sisa banyak dan terbuang aja karena lama nggak terpake dan kadaluarsa. Mentega putih kan jarang digunakaan dalam pembuatan cake. Paling paling dulu aku bikin untuk bakpia atau bakpau supaya putih tapi sekarang dah dapat resep yang bagus dan nggak pake itu lagi. 

Akhirnya aku memutuskan untuk nyontek resepnya Mbak Widya Wijanarti dari majalah Martha Stewart Indonesia. Di situ juga lengkap disertakan step by stepnya. Penampakan di kulitnya agak berbeda dengan punya mbak Vivi. Mungkin karena penggunaan lemak yang berbeda. Mbak Vivi pake mentega putih sedangkan Mbak Widya menggunakan margarin. Kalau di rasa mungkin enak margarin ya, tapi di warna dan tekstur kulitnya agak beda. Kelihatan yang mentega putih lebih kering hasil kulitnya. Layernya jadi kelihatan jelas juga.

Setelah aku buat, hasilnya memang mirip punya mbak Widya. Jelas cantikan punyak mbak Widya ya...dah masternya gitu loooh...hehe. Kulitnya renyah tapi kurang keluar tekstur/motifnya walapun hasilnya berlapis lapis juga. Dan entah aku melakukan kesalahan di step yang mana...punyaku banyak yang pecah sewaktu digoreng. Daripada terbuang-buang karena nggak bisa dimakan (berminyak sangat) akhirnya inisiatif aku dipanggang aja. Ternyata enak juga. Malah si Hanif suka yang di panggang. Cuma di kulitnya agak keras hasilnya. Isiannya aku bikin dua macam. Satu ayam kari dan satu lagi daging soalnya hubby nggak makan ayam. Resep ayam kari ikut mbak Widya tapi tunanya aku ganti ayam suwir. Berikut resep aslinya dari Majalah Martha Stewart Indonesia :


Rabu, 19 Juni 2013

Kue Palu (Makassar)




Namanya kue palu, sama sekali bukan karena berasal dari daerah Palu ataupun dibuat menggunakan palu, hehe ^^. Aku yakin masih banyak teman yang belum pernah mencicipi kue yang satu ini. Aku juga makannya dulu waktu masih kecil. Kalau nenek datang biasanya beliau membawakan kue ini dan satu lagi favoritku, kue jipang. Suka sekali semuanya. Dua duanya dari beras ketan sangrai. Untuk kue palu, aromanya wangi khas ketan sangrai, ditambah kelapa parut dan gula pasir/merah. Teksturnya sedikit legit, tapi kalau dimakan harus hati hati karena beremah. Yang unik ya tekstur ketan dan kelapanya itu menurutku. Kalau menggunakan gula merah usahakan serut sehalus mungkin. Kalau menggunakan gula pasir cari yang butirannya halus seperti kastor. Ini nanti yang menyumbang sensasi krenyes krenyes ketika dikunyah. Dibentuk dengan cara dipadatkan dalam cetakan kue mangkok menghasilkan kue yang kelihatan kompak tapi begitu dikunyah langsung lumer di mulut.

Walaupun berasal dari Sulawesi Selatan kue ini jarang dijumpai di kota kota besar. Biasanya di daerah atau di kampung kampung saja orang suka membuatnya. Bukan karena kue ini kurang enak loh...tapi justru karena proses pembuatannya lumayan ribet . Bahannya cukup simpel. Cuma beras ketan, kelapa, dula pasir dan sedikit garam.

Aku bangga termasuk salah satu yang berhasil membuatnya. Bagaimana tidak...jangan dikira kalau kita punya gadget dapur yang lumayan canggih seperti blender atau food processor bisa dengan mudahnya membuat kue ini. No...no..no... . Aslinya beras ketan yang sudah disangrai kecoklatan ditumbuk menggunakan alu atau digiling dengan gilingan khusus. Setelah itu diayak. Begitulah dilakukan berulang ulang sampai beras ketannya habis menjadi bubuk semua. Walaupun bubuk nggak berarti halus seperti tepung terigu ya karena saringan yang digunakan bukan saringan halus. Masih terasa bulir bulir ketika dikunyah. Setelah itu dicampur dengan kelapa parut yang sudah dikukus supaya bisa tahan agak lama. Gulanya yang lumayan banyak merupakan pengawet alami dan membuat kue ini bisa bertahan sampai beberapa hari.

Nah karena aku nggak punya alu/gilingan, jadilah aku pake blender. Tau apa yang terjadi?? 10 kalipun aku blender berasnya nggak mau halus bener, pasti ada beras yang masih kasarnya tertinggal. Banyak lagi. Jadinya kue yang berhasil tercetak cuman jadi separuh dari resepnya. Tapi yang penting sudah tahu proses pembuatannya. Jadi lebih menghargai kue kue tradisional kita. Rasa capeknya hilang seketika ketika anak anak antusias makannya dan suka sekali sama kuenya. Kata mereka, kok bikinnya dikit sekali padahal kue ini enak sekali. Maaf ya anak anak...ibumu kurang telaten. Sebenarnya masih ada sisa tepung beras ketan yang masih kasar di dalam blender. Nanti mau coba lagi siapa tau bisa halus kalau aku sabar nungguin...hehe *mengharap keajaiban*




Sabtu, 13 April 2013

NCC JTIW : Sanggara' Belanda (Makassar)



Ini laporan keduaku tuk ajang NCC-JTIW. Nanti malam deadlinenya dan aku baru setor mepet mepet hehe. Nggak papalah yang penting dah ikut partisipasi. Ya kan??

Sanggara Belanda dalam bahasa Indonesia berarti pisang goreng belanda. Kenapa dinamakan Belanda kami juga tidak tau pastinya. Yang jelas kue ini sudah ada sejak dulu dan selalu jadi salah satu sajian dalam acara acara khusus yang disajikan bersama kue kue tradisional lain dalam piring 'bosara'. Mungkin saja kue ini ada sejak jaman penjajahan Belanda. Atau bahkan termasuk salah satu dessert mereka yang ditiru oleh nenek moyang kita. Mungkin juga itu hanya penamaan saja. Karena pisang ini menggunakan filling margarin/butter yang notabene dulu bukan merupakan bahan makanan populer kita makanya dinamakan belanda. Pisang gorengnya beda dengan pisang goreng biasa yang dicelup tepung dan digoreng. Yang ini ada rasa rasa Belandanya. Begitu orang orang tua biasa menyebutkan makanan berbau luar negeri. Wallahu alam...

Ciri khas pisang goreng belanda adalah harus menggunakan pisang raja yang bagus matangnya. Tidak boleh menggunakan pisang lain karena beda aroma dan rasanya. Pisang raja tinggi kandungan gulanya sehingga kalau digoreng akan terjadi proses karamelisasi yang menghasilkan aroma khas. Wangi....enaaaak...!! Minyak akan menjadi keruh karena kandungan gula dalam pisang mengkaramel. Pisang ini digoreng 2x untuk mendapatkan penampakan dan rasa yang pas. Penggorengan pertama untuk mengeluarkan bau karamel pisangnya. Yang kedua untuk mematangkan celupan telurnya. Kalau langsung dicelup dan digoreng akan beda aromanya. Coba saja deh...
Dan tujuan dari pemberian filling dalam keadaan masih panas adalah untuk melelehkan margarin/butter dan gula di dalam pisang. Nanti yang terlihat hanya kacangnya. Margarin dan gula berubah menjadi saus karamel. Mantaaaaapp...apalagi disantap dalam keadaan dingin.




Anak anakku suka ditambahkan parutan keju. Biasalah anak anak sekarang. Makanan serba dikeju dan dicoklatin. hehe....








Jumat, 12 April 2013

NCC JTIW : Kue Kembang Seruni (Makassar)



Ini kali kedua aku posting kue kembang seruni. Pingin juga ikutan ajang NCC JTI (jajanan tradisional Indonesia). Orang orang udah pada setoran ke 4 ke 5 dan seterusnya, aku malah baru setor. Gemes juga karena jajanan Makassar atau Sulawesi Selatan masih kurang terekspose. Orang hanya mengenal pisang hijau. Padahal banyak sekali kue kue tradisional lainnya yang belum terekspose. Contohnya bolu peca', ka'dong bo'dong, cucur bayao, siri manis, biji nangka dan masih banyak puluhan lainnya...

Beberapa kue ini memang bukanlah jajan pasar yang umum. Jarang dijumpai di pasar. Biasanya dibuat pada saat acara acara besar saja seperti pernikahan. Disusun dalam piring  sedemikian rupa dan ditempatkan dalam piring saji bertutup yang dinamakan 'bosara'. Cirinya satu. Maniiiiiis dan menggunakan banyak telur. Untuk sebagian orang dianggap kemanisan dan berbau telur tapi begitulah adanya. Justru ternyata banyak yang suka malahan kalau acara acara besar selalu dicari.

Kue kembang seruni ini mirip kue ku dari Jawa. Tapi isiannya terbuat dari kentang dan dimakan bersama saus santan. Aslinya kue ini tidak menggunakan pinset bergerigi membentuknya. Cukup menggunakan ujung jari jempol dan telunjuk dijepit jepi sampai terbentuk motifnya. Mulai dari arah tengah ke luar. Kalau punyaku kayaknya lebih mirip mawar deh daripada seruni. Tapi gak papalah...setidaknya ada gambaran seperti apa rupanya kue yang satu ini.


Selasa, 02 April 2013

Pallu Konro



Banyak yang request aku tuk bikin konro tapi belum keturutan. Di rumah aku biasanya bikin rawon daging karena hubby nggak terlalu suka tulang. Bikin konro baru kali ini sih. Hanya untuk memuaskan rasa penasaran. Setahukua pallu konro atau sop konro itu banyak variasinya. Yang jelas sop tulang berkuah agak gelap. Karena konro artinya tulang dalam bahasa Makassar. Ada yang menambahkan kayu manis ada juga yang tidak. Ada yang suka menambahkan keluak ada yang tidak. Ada yang menambahkan adas manis ada juga yang tidak. Berpulang ke selera masing masing. Kali ini aku nyontek resep Vierly dengan modifikasi hasil tanya sana sini.

Hasilnya enak. Penampakan mirip rawon tapi rasanya jelas beda. Kalau konro tidak menggunakan daun jeruk purut. Makasih nah Vierly, sudah disharing resepta'. Nyamang memang tong...!! Lain kali mau coba juga konro bakar ah...tapi dilema. Harus menghabiskannya sendiri, awww tidaaaakkk!!

Rabu, 06 Maret 2013

Pallu Basa Makassar





Banyak orang yang bilang makanan Makassar mirip mirip bentuknya dan rasanya. Yang dimaksud itu mungkin adalah coto, konro, sop sodara dan pallu basa. Sebenarnya kalau lidah kita sudah sering mencicipinya rasanya tidak ada yang sama. Memang sepintas penampakan kuahnya agak mirip gelap kehitaman tapi bumbunya sangat berbeda. Semua makanan di atas kecuali konro umumnya menggunakan jeroan. Kalau konro menggunakan tulang. Tapi itu sesuai selera masing masing. Kalau aku bikin, jeroan diskip cuman pake daging.

Bumbu pengentalnya juga berbeda. Kalau konro menggunakan kaloa/kluwek, kalau coto menggunakan kacang goreng yang dihaluskan, pallu basa menggunakan kelapa parut sangrai yang dihaluskan, sedangkan sop sodara kuahnya tidak terlalu kental karena walaupun menggunakan telur kocok di akhir proses pemasakannya, perbandingan dengan kuahnya jauh sekali. Nah jelas kan perbedaannya. Dilihat dari bumbunya saja sudah bisa ditebak semua aroma masakan ini berbeda. 


Kali ini aku mencoba membuat pallu basa. Biasanya pallu basa disajikan bersama nasi beda dengan makanan lain yang disajikan bersama ketupat dan burasa. Dan dalam keadaan panas panas baru dituang ke mangkok biasanya bagi yang suka ditambahkan kuning telur ayan kampung. Menghasilkan kuah yang kental tapi sama sekali tidak berbau amis karena kelapa sangrai yang digunakan mendominasi aroma masakan ini. Kalau kata mamaku dulu neneknya kalo bikin nggak pernah disantap bersama telur mentah. Tapi ke dalam bumbunya ditambahkan sedikit kaloa/kluwak. Sedikit saja hanya tuk pewarna dan bukan pengental. Tapi ya...suka suka aja ya sesuai selera. Berikut resepnya yaaa...


Jumat, 18 Januari 2013

Menaklukkan si Bolu Peca'...



Kue bolu peca'merupakan salah satu jajanan tradisional Bugis Makassar dan wajib ada dalam acara acara besar seperti nikahan. Sudah umum diketahui kalau kue kue yang disajikan dalam acara acara ini rasanya mayoritas super manis. Walaupun bukan favoritku tapi karena ingin melestarikan jajanan khas Sulawesi ini aku niatkan tuk bikin. Rasanya bukannya tidak enak, tapi sangat manis. Teksturnya sebelum diberi gula agak kenyal dan sama sekali hambar. Setelah terserap gula teksturnya jadi lembut, moist dan manis tentu saja. Di rumah, hubby cobain dikit aja sudah nggak mau lagi. Aku juga cuman dua potong...itupun makannya dikit dikit. Heran tapi...kue ini banyak sekali peminatnya, terutama orang Bugis Makassar *ya iyalaaaah* dan anak anak juga suka sekali. Syukurlah kuenya tidak mubazir ^^ .

Jumat, 04 Januari 2013

Kue Kembang Seruni (Makassar)





Kue kembang seruni adalah salah satu kue tradisional Makassar. Disebut kembang seruni karena penampakannya mirip bunga seruni atau biasa disebut juga bunga krisan. Cara bikinnya dengan cara dicubit cubit menggunakan ujung jari jempol dan telunjuk hingga membentuk kelopak seruni. Herannya...walaupun aku tumbuh besar di Sulawesi Selatan, belum pernah sekalipun aku mencicipi kue ini. Dulu biasanya disajikan pada saat ada acara besar seperti suguhan lamaran atau nikahan. Tapi sekarang sudah jarang. Nah demi melestarikan budaya Makassar sekaligus inventaris resep kuno aku buatlah kue ini. Rasanya enak dan legit serta gurih khas kue tradisional bersantan. Mirip mirip kue ku tapi disajikan bersama saus santan.

Seperti biasa kue tradisional mama biasanya menggunakan takaran kira kira. Tapi aku berusaha mengkonversi kira kira tersebut ke dalam gram dan ml. Bikinnya juga aku pakai pinset bergerigi biar lebih cantik tapi malah jadinya nggak kayak seruni...kok kayak bunga mawar ya? hihi

Berikut yaaa resepnya... 

Senin, 10 Desember 2012

Cobe' Cobe' Lasuna



Cobe' cobe' lasuna adalah salah satu jenis sambelnya orang Makassar. Banyak macam sambel yang lain, tapi kalo tuk ikan bakar bapakku paling suka bikin sambel ini. Iya, di rumahku bukan hanya mamaku yang pandai memasak. Bapak juga sering turun ke dapur, hehe. Malah beberapa resepku adalah hasil berguru sama bapak ^^

Rabu, 07 November 2012

Coto Makassar

  


Dulu dah pernah bikin coto sekali. Karena percobaan perdana aku bikinnya sedikit. Lhaaa belum sempat difoto udah ludes duluan. Artinya....?? enaaaaak dong, hihi. Bikin coto butuh perjuangan, makanya harus siap mental dan waktu yang banyak buat nyelesaiin masaknya. Nah sekarang baru sempat bikinnya, hehe. Mbak Ayin, resep ini kupersembahkan untukmu...walaupun fotonya kurang meyakinkan, tapi yakinlah rasanya lebih enak dari tampangnya *lebaaaaaaayyy*

Selasa, 30 Oktober 2012

Lappa' Lappa'







Assalamualaikum...

Apa kabar duniaaaa? semoga pada sehat semuanya ya...kangeeeen eeeuy ! Tuk teman teman muslim semoga belum terlambat tuk mengucapkan Selamat Idul Adha yaaaa.

Alhamdulillah, senangnya bisa ngeblog lagi. Mungkin ada teman yang bertanya kok cutinya lama sekali. Beberapa minggu ini aku memang off ngeblog. Bukan karena malas ataupun baking blue...tapi memang ada urusan keluarga yang butuh perhatian khusus. Jadi semoga dimengerti ya...sebenarnya akupun sendiri udah gak sabaran. Tangan kiri kanan gatal pingin posting hehe...kalo baking and cookingnya sih teteup tapi gak ada waktu buat foto, ngedit dan ngeblog. So, bulan ini rekor deh postingannnya paling dikit, heuw heeew "~"

Selasa, 20 Maret 2012

Gogoso Kambu



Gogoso Kambu


Gogos atau gogoso adalah makanan tradisional khas Makassar yang mirip mirip dengan lemper dari Jawa maupun lalampa dari Menado. Bentuknya lebih panjang dan agak langsing dibandingkan dengan lemper. Gogos ada yang tanpa isian dan ada juga dengan isian. Nah yang menggunakan isian inilah dinamakan gogoso kambu atau gogos isi. Isinya biasa dari ikan tongkol yang dicampur kelapa sangrai dan bumbu. Kalau mau tahan lama biasa cuma diisi dengan abon.

Kalau yang tanpa isi biasa dijual dengan pendamping telor asin. Hah...pasti pada heran kan, kok dimakan sama telor asin. Iya memang gogos ini bukan termasuk snack atau jajan buat nyemil. Tapi sebagai makanan utama pengganti nasi. Biasanya diperuntukkan buat bekal kalau lagi bepergian. Kalau di daerah Sulawesi, persinggahan bus itu pasti dipadati dengan penjaja gogos ini. Itulah sebabnya gogos ini tanpa isi dan dimatangkan dengan cara dipanggang, agar tahan lama. Bisa sampai seminggu tergantung cara masaknya.



Nah yang aku bikin kali ini adalah gogos kambu. Resepnya dapat dari mama...
Benar benar perjuangan bikinnya. Daunnya ambil sendiri di halaman, setelah itu dipotong-potong dan dilap. Untuk sematnya aku ambil lidi dari pohon kelapa di halaman juga. Untungnya pohon kelapanya pendek aja. Jadi bisa sampai ngambil daunnya. Kenapa nnggak ambil lidi dari sapu lidi aja?? hihi udah gundul keseringan aku ambil buat nyemat pepes or botok hehe ^^

Bahan ketan :

- 500 gr beras ketan putih, rendam 2 jam
- 300 ml santan
- 1 sdt garam
- pandan

Bahan isian :

- 2 ekor ikan tongkol ukuran sedang, bakar lalu buang tulang dan suwir
- 1/4 biji kelapa parut (sangrai sampai kecoklatan, setelah dingin tumbuk agak kasar)
- 3 sdm minyak untuk menumis bumbu

Bumbu halus :

- 2 buah cabe merah
- 5 buah cabe rawit (kalau suka pedas)
- 8 butir bawang merah
- 5 siung bawang putih
- 1/2 sdt merica bubuk
- 1/4 sdt pala bubuk
- garam secukupnya
- gula merah secukupnya

Olesan :
santan kanil+sedikit garam

Cara membuat :

  1. Isian : panaskan minyak goreng. Tumis bumbu halus hingga wangi. Masukkan ikan tongkol suwir. Aduk hingga bumbu bercampur. Tambahkan sedikit air agar bumbu bisa lebih tercampur. Setelah air menyusut, masukkan kelapa sangrai lalu aduk rata. Masak sambil diaduk aduk terus sampai isian menjadi kering seperti abon. Matikan api. Sisihkan.
  2. Ketan : setelah ditiriskan, kukus ketan bersama daun pandan sampai setengah matang sekitar 15 menit. Angkat. Didihkan santan dengan garam dalam panci. Masukkan ketan, aduk sampai santan habis terserap habis. Kukus ketan kembali selama 30 menit hingga matang. Angkat.
  3. Siapkan 2 lembar daun pisang. Daun yang masih muda untuk pembungkus bagian dalam.
  4. Siapkan plastik agar ketika membentuk adonan ketan tidak melengket. Sendokkan ketan dalam plastik. Padatkan dan pipihkan. Beri isian ikan. Tangkupkan dan padatkan.
  5. Letakkan dalam daun dan olesi dengan santan kanil. Gulung. Semat dengan lidi. Selesaikan semua.
  6. Siapkan bara atau kompor. Panggang gogos dengan api sedang sampai wangi. Bagian kulit agak kering tapi bagian dalam masih lembut.
  7. Siap dihidangkan.


Nah ternyata daun yang aku ambil nggak cukup, akhirnya aku dapat ide bikin ketan goreng aja. Kayaknya pernah lihat di Majalah Sedap. Isiannya aku pakai isian gogos aja karena masih banyak. JAdilah ketan goreng. Pokoknya tinggal bentuk oval agak pipih. Celup di dalam telur lalu beri tepung panir kasar dan goreng. Hmmmm...jadi lagi satu cemilan gurih...
Ketan Goreng





Rabu, 29 Februari 2012

Bura'ngasa (Makassar)


Jajanan Makassar yang satu ini namanya bura'ngasa. Kalau di Jawa mirip dengan gandasturi tapi yang ini menggunakan gula merah tuk campuran kacang ijonya dan tidak menggunakan santan. Ada satu lagi jajan yang mirip dengan ini namanya tara'jong'. Proses pembuatan sama hanya isiannya menggunakan singkong yang diberi gula merah. Rasanya beda dikit juga...ya enak juga! Lain kali dicoba deh...


Resepnya menggunakan kacang ijo yang direndam semalaman. Setelah itu direbus sampai lunak dengan sedikit garam dan daun pandan. Setelah airnya menuyusut tambahkan gula merah diserut lalu masak lagi sampai kalis. Kalau aku, takaran gulanya aku kira-kira. Karena sewaktu bikin tadi agak kurang manis aku tambahkan lagi sedikit gula merahnya. Bura'ngasa ini harus terasa manisnya tapi tidak juga kemanisan. Jadi sesuaikan selera saja. Setelah kalis, dibentuk bulat pipih lalu digoreng. Kalau bahan pencelupnya aku pake tepung beras dan terigu 1 : 1. Kasih garam sedikit lalu goreng sampai garing. Enaaaak...!!

Waktu menikmatinya paling enak pada saat panas panas diangkat dari penggorengan, lapisan tepungnya kriuk kriuk dan kacang ijonya masih lembut/legit. Jadi kalau mau tahan lama, adonan kacang ijo yang sudah dibulatkan dan dipipihkan taruh di wadah kedap udara lalu simpan di refrigerator. Adonan tepungnya bikin secukupnya aja. Jadi pada saat mau dimakan baru deh digoreng. Dan yang pasti diusahakan langsung habis. Kalau dingin lapisan tepungnya jadi alot.


IMG_4369Bura'ngasa



Sabtu, 25 Februari 2012

Barongko

Barongko

Barongko adalah kue pisang yang sangat lembut. Menikmatinya tidak perlu dikunyah...cukup disesap saja. Mmmm nikmatnya, apalagi kalau baru keluar dari kulkas...manteeeep. Bahannya simpel tapi rasanya manis legit. Kalau di sini barongko umum dijual di toko/warung kue. Sering juga menjadi sajian acara khas adat. Aku sering bikin karena Hanif dan Iyut suka sekali. Kalo hubby sih, bukannya nggak suka. Tapi memang dia penyuka gorengan atau kue yang gurih gurih. Beberapa kue tradisional juga suka, tapi kalo barongko makan satu aja udah cukup katanya...hahaha.

Bahan dasar barongko ini adalah pisang kepok. Karena selain menghasilkan warna putih (pisangnya tidak mudah teroksidasi/berubah warna seperti pisang ambon dan pisang raja) rasa manisnya pas. Walaupun pisang raja juga manis, menurutku dia hanya cocok dibikin cake, dibuat gorengan atau tuk isisan roti. Kalo dibikin barongko, walaupun pisangnya sudah matang sekali dan manis tapi ada rasa sepet-sepetnya dikit setelah dikukus, selain itu warnanya juga berubah jadi kecoklatan. Nah kalo pisang ambon lebih gak cocok lagi...hihi. Ternyata pisang juga beda jenis, beda rasa dan beda juga peruntukannya ya...^^

Nah, seringnya kalau membuat barongko aku tidak menggunakan takaran. Semua hanya pake ilmu kira kira. Karena sudah sering bikin, jadinya sudah tahu untuk menghasilkan kue yang lembut kira kira seberapa banyak santannya, telurnya maupun gulanya. Tapi kalau mau resepnya ya silahkan lihat di
sini ya. Kalo nggak salah dulu waktu bikin aku sempat konversi ke gram deh sebagian...hehe.



Related Posts with Thumbnails