Sabtu, 09 Februari 2013

Dampo Durian




 

 


Dampo durian adalah salah satu camilan khas Sulawesi Selatan. Terutama banyak di daerah palopo karena di sana salah satu penghasil durian. Aku yakin di daerah lain juga ada, cuman beda namanya. Berbentuk seperti dodol tapi sama sekali tanpa tambahan tepung. Bahannya cuman durian dan gula. Tapi rasanya jangan ditanya. Bayangkan saja rasa durian asli. Lebih wangi dan tidak tajam baunya seperti durian segar. Proses pengaronannya menghasilkan bau karamel khas duren. Pokoknya enak sekali. Tapi menghabiskannya nggak sebanding dengan proses pembuatannya. Baru diangkat dari penggorengan dah habis dalam sekejap. Goreng lagi habis lagi. Gak ada yang tinggal di piring. Heran niy anak anak...kayak makan kerupuk aja. Tinggallah ibunya dengan pegel seluruh badan habis ngaronin dampo. Tapi puassssss...!!

Selain dampo durian ada juga dampo pisang. Berbeda dengan dampo durian, dampo pisang sangat mudah proses pembuatannya. Hanya butuh modal pisang kepok yang bagus masaknya dan sinar matahari. Sementara dampo durian butuh waktu yang lumayan lama. Modalnya "kekuatan tangan untuk mengaduk/mengaron" adonan.

Karena kemarin masih banyak sisa durianku, setelah dikupas bijinya masih ada sekitar 1 1/2 kg daging durian. Supaya tahan lama aku rencana bikin selai durian. Sementara membuat, separuh aku sisihkan buat selai sementara sisanya aku lanjutkan mengaron sampai lebih kering untuk menghasilkan dampo durian seperti gambar di bawah. Warna kecoklatan didapatkan dari hasil karamelisasi gula dan durian yang mengalami proses pemanasan cukup lama. Aslinya dampo durian ini dijemur seperti dampo pisang. Setelah diaron dijemur untuk mendapatkan hasil yang kering. tapi aku pikir pikir kalau tunggu matahari bakalan gak kering kering karena sekarang musim hujan. Selain itu nggak bisa dijamin kebersihannya karena bisa saja dihinggapi serangga seperti lalat. Dioven lebih hygenis dan cepat prosesnya. Mulai dari proses mengaron sampai mengoven butuh waktu sekitar 3-4 jam. Tergantung tekstur yang diinginkan. Bila ingin lebih kering lagi butuh waktu lebih lama.









Di bawah adalah tampangnya ketika sementara diaron di wajan. Setelah itu aku padatkan di loyang dan dioven. Setelah dioven aku potong potong lagi untuk kemudian digoreng dengan tepung. Adonan tepung sama dengan tepung tuk menggoreng pisang. Tapi konsistensinya lebih kental supaya bagian dalamnya  tertutup sempurna. Gorengnya juga tidak boleh lama, nggak perlu sampai cokelat karena nanti jadi alot makannya.




16 komentar:

Lina IbunyaAzRaf mengatakan...

weheheheyyy.... you really-really do it right... Duren again.... Hiks...hiks...hiks...

mimie mengatakan...

mirip ''lempok'' # O untuk solo
di dumai,bengkalis riau khususnya ini oleh2 khas mb hesty.

ulfa mengatakan...


Kayaknya manis kali ya mba.. soalnya gakda campuran bhn lain cuma duren sama gula... durennya sendiri uda manis lalu tambah gula lg... jd supeeerr maniiiizzz. saya sndiri suka banget ma duren.. enak deh. ini jd resep baru tuk ngolah duren biar awet and thn lama.. makasih mba hesti ats resepnya..

Food and story mengatakan...

kecap2..pengen nih sy :)....di doha durian mahal , pernah beli sekali tapi kok anyep ya..... Thanks Hesti ucapannya .

Nisa's Mom mengatakan...

ooooh.. this is too much work !! hahahha.. biar deh nanti ibu di pijet2 sama anak2 ya..

Hesti HH. mengatakan...

hehe...iya mbak, pokoknya durian week dah, wait for more yaaa sampe blenek lihatnya kwkwwkwk...

Hesti HH. mengatakan...

iya sama mbak Mimie, di sini juga biasanya dijual tuk oleh oleh...lucu namanya beda tipis ya...

Hesti HH. mengatakan...

Ngga juga terlalu manis mbak kan gula disesuaikan selera. Semakin manis semakin tahan lama tapi kalau untuk konsumsi sendiri nggak perlu terlalu manis. Durian segar emang manis tapi kalau sudah dipanaskan manisnya berubah. Mirip kayak bikin selai nanas or apel tetap harus ditambah gula untuk menguatkan rasanya. Pokoknya nggak sampe bikin sakit gigi kok...hihihi

Hesti HH. mengatakan...

pastinya mahal ya mbak...bukan penghasil duren sih. Mungkin rasanya anyep begitu karena bawanya ke sana masih dalam keadaan mentah supaya tahan lama. Entar diperam...tapi tetep beda rasanya sama yang matang dipohon...

Hesti HH. mengatakan...

hihiiii udah mbak kemaren dipijitin. Hanif pijitin betis, Iyut pijitin tangan, tak lupa hubby pijitin mesraaaaa...di telapak kaki maksudnyaaaaa kwkwkwkwkwk

Lina IbunyaAzRaf mengatakan...

haaaa...???? Owh no....!!! I think all i can do is just read n see... Tegaaaaa....!!!
(sambil menangis tersedu-sedu...) www.lebay.com

dwek mengatakan...

sayang nggak suka durian mbak... bisakah diganti dengan yang selain durian mbak hesti ?

Hesti HH. mengatakan...

Kalau diganti yang lain bisa aja mbak tapi dah bukan dampo lagi namanya, hehe

Aya mengatakan...

Mba hesti....sy silent reader nih selama ini....thks for sharinf ya.. gara2 sering baca blog mba skrg pnya stand mixer n oven. Oya i loooooooveee ur photo...pk camera apa? Share tips how take a yummy pics dong mba

meilya dwiyanti mengatakan...

mbaak Hesty, saya pengen nyobain resep ini, di tempat saya, dureeen muraaaah banget... jadi bisa dibikin macemm maceeem... kayaknya enaak ya mbaaak...

Hesti HH. mengatakan...

@Aya : Alhamdulillah, senang kalo bermanfaat mbak. Saya pake kamera Canon EOS 60D. Supaya punya sense art yang tinggi rajin aja melototin karya karya gambar makanan senior. Seiring waktu dan banyaknya jam terbang pasti akan berkembang sendiri mbak.

@Meilya : Enaaak ini mbak, silahkan dicoba, jangan lupa kabarin hasilnya yaaa

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails