Saturday, 10 March 2012

Baro'bo


Entry baro'bo ini aku setorkan tuk memeriahkan IFP (Indonesian Food Party) edisi bulan Maret.


Baro'bo


Baro'bo ini adalah bubur gurih dari Sulawesi Selatan. Terdiri dari jagung, ditambah dengan sayur sayuran serta udang atau ayam. Penampakannya mirip dengan bubur Manado tapi rasanya agak berbeda. Kalau bubur Menado menggunakan lebih banyak sayuran dan bumbu minimalis garam serta sereh dinikmati bersama ikan asin dan sambal. Sedangkan baro'bo ini rasanya seperti sup karena bumbunya terdiri dari bawang dan merica. Serta disajikan bersama perkedel jagung dan sambal dan jeruk nipis. Nah, kebayang nggak rasanya??


Dulu, sekitar 14 tahun yang lalu jaman aku kuliah, aku dapat daerah kuliah kerja nyata di Kabupaten Bone Kecamatan Ulaweng. Di sana kebetulan lagi musim jagung dan jagungnya banyak jagung pulut jadi kami, anak KKNnya sering-seringlah makan baro'bo. Bedanya baro'bo yang menggunakan jagung pulut dan jagung manis biasa adalah rasanya dan tekstur yang lebih kental. Kalau hanya menggunakan jagung manis biasanya ditambahkan sedikit beras agar lebih kental.

Secara umun penyajian hampir sama di beberapa daerah hanya jenis sayurnya saja yang berbeda tergantung selera. Di Bone dulu kalo nggak salah menggunakan sayur sawi dan kangkung. Kalau di sini yang populer menggunakan bayam, kangkung, gambas, dan daun kacang. Tapi sekali lagi tergantung selera sih. Nah kali ini aku menggunakan bayam, gambas dan daun kacang. Untuk pewanginya aku gunakan udang dan disajikan bersama taburan ayam goreng suwir. Biasa aku lihat juga beberapa orang menambahkan kaldu bubuk biar lebih gurih katanya. Sesuai selera saja...

Bahan bubur:
- 2 buah jagung manis, diparut
- 2 buah jagung manis, disisir halus
- 1 genggam beras (aku menggunakan nasi matang 2 sdm)
- 100 gr udang, kupas
- 600 ml air
- 1/2 ikat bayam, disiangi
- 1/2 ikat daun kacang, disiangi
- 2 buah gambas, kupas potong-potong
- 1 tangkai seledri, diiris tipis

Bumbu halus :
- 3 siung bawang putih
- 3 butir bawang merah
- garam secukupnya
- 1/2 sendok teh merica bubuk

Bahan perkedel :
- 50 gram udang kupas, potong potong
- 3 buah jagung manis (separuh diblender, separuh disisir)
- 1 butir telur
- 1 batang daun bawang, diiris halus
- 1 tangkai seledri, diiris halus
- 2 sdm tepung terigu protein sedang
- minyak untuk menggoreng

Bumbu halus:

- 3 butir bawang merah
- 2 siung bawang putih
- garam secukupnya
- 1/2 sendok teh merica bubuk

Bahan pelengkap :

- ayam goreng, disuwir-suwir
- bawang goreng untuk taburan
- jeruk nipis
- sambal ulek

Cara membuat :
  1. Bubur : masak jagung dan nasi bersama air sampai mendidih.
  2. Masukkan bumbu halus dan udang. Masak sambil sesekali diaduk agar bawahnya tidak gosong. Biarkan meletup letup dan mengental.
  3. Tambahkan bayam, daun kacang, dan gambas. Cicipi apabila kurang garam. Masak sampai matang. Matikan api. Angkat.
  4. Perkedel : campur jagung, tepung, telur, dan bumbu halus. Aduk rata. Tambahkan daun bawang dan seledri, aduk. Goreng dalam minyak panas sedang sampai garing.
  5. Penyelesaian : sajikan bubur dengan taburan ayam goreng suwir, perkedel jagung, taburan bawang goreng, dan jeruk nipis serta sambel.

Home-made Bumbu Spekuk




Home-made Bumbu spekuk



Berhubung persediaan bumbu spekukku udah habis, saatnya untuk bikin lagi. Kebetulan ada spesial request dari sahabatku Kak CT tuk memperlihatkan cara pembuatannya. Selama ini aku tidak pernah ketemu resep cara bikin bumbu spekuk lewat internet. Tapi dulu memang aku selalu bantu mama kalau lagi bikin di dapur. Apalagi kalau dekat dekat lebaran. Malahan waktu awal awal menikah, beliaulah yang selalu membuatkan. Sekarang terbalik. Aku yang bikin baru share ke mom tercinta...hehe


Ini adalah resep beliau yang hanya pakai ilmu kira kira. Salah satu bumbu berlebihan bisa berpengaruh ke hasil akhir, yaitu rasa dan aroma. Kalau kayu manis yang banyak nggak apa-apa karena wanginya khas tidak terlalu tajam.


Kayu manis sebelumnya harus dipecah pecah dahulu kemudian dicuci karena biasanya ada kotoran di bagian dalamnya yang bersembunyi. Bahan yang lain tidak perlu dicuci, kecuali memang terlihat kotor. Setelah itu disangrai dengan api kecil atau kalau aku dioven sebentar sampai kayu manisnya kering. Pala, kapulaga dan cengkeh menyusul dioven bersama kayu manis karena hanya membutuhkan waktu yang sebentar. Kelamaan di oven akan berakibat aroma bumbu yang terlalu tajam. Jadi kira-kira sajalah.


Pengovenan dilakukan agar bumbu kering sempurna sehingga bisa bertahan lama dalam toples. Perbandingan jumlah bahan bisa dilihat di gambar. Kalau kayu manisnya 10 batang, palanya cukup 2 saja, cengkeh 10 biji saja dan kapulaga 20 butir. Kapulaga setelah dioven kemudian dikupas kulitnya dan hanya biji biji kecil bagian dalamnya yang diambil. Tergantung pula dengan ukuran kayu manisnya, aku menggunakan kayu manis berukuran pendek. Kalau panjang-panjang cukup 5 saja. Oh iya, kapulaga itu ada dua macam. Yang satu bulat putih dan satunya panjang kayak gandum warna hijau.



Setelah dioven, semuanya ditumbuk kasar menggunakan mortar atau cobek. Kan nanti kita akan menggunakan blender untuk menghaluskannya. Kalau bahan bahan tersebut dalam keadaan utuh maka kasihan blendernya. Selain kerja terlalu keras, kalau blendernya dari kaca plastik maka kacanya akan buram/kabur karena tergores-gores dengan bumbu bumbu keras tersebut.








Setelah diblender maka bumbu yang masih kasar tadi diayak. Ayakan menggunakan yang paling halus. Sisa ayakan yang masih kasar bisa diblender kembali atau digiling dengan mortar. Berulang ulang seterusnya sampai habis.




Bumbu spekuk siap digunakan. Kalau aku bisa bertahan sampai 2 tahun dalam toples kedap udara.

Friday, 9 March 2012

Wingko



Wingko


Setiap habis cuti dari Jawa biasanya pulangnya aku dibekali oleh-oleh kue 'masirat' oleh mertuaku. Nah karena aku suka sekali, resepnya aku cari di internet tapi nggak pernah ketemu. Yang ada hanya resep wingko. Kata ibu mertuaku, masirat dan wingko serupa, malahan enggak tau juga bedanya di mana ya...tapi memang kalo di tempat hubby namanya kue masirat. Dibikin dengan 2 proses, yaitu dikukus dulu baru kemudian dipanggang. Ukurannya juga jumbo sekitar 60x40 cm nggak kebayang ukuran kukusan dan ovennya. Bahannya sama menggunakan ketan, kelapa, santan telur dan margarin. Mungkin ukuran bahan aja yang berbeda.


NAh untuk mengobati rasa rindu pengen makan kue masirat ini, akhirnya aku googling dan nemu resep wingko di Dapur SQU. Tapi karena percobaan pertama aku bikin separuhyna aja. Tapi di bawah ini resep aslinya 1 resep ya...

Bahan :

- 550 gr tepung ketan
- 400 gr gula pasir
- 400 gr kelapa parut
- 200 ml santan, didihkan
- 150 gr margarin, lelehkan
- 3 butir telur
- 1/2 sdt garam

Olesan :
- kuning telur
- wijen

Cara membuat :

  1. Kocok telur bersama gula pasir hingga larut.
  2. Tambahkan kelapa parut aduk hingga larut.
  3. Masukkan tepung ketan bergantian dengan santan sambil diaduk. Masukkan margarin cair dan garam lalu aduk hingga rata.
  4. Tuang ke dalam loyang yang telah dialasi daun pisang.
  5. Kukus selama 15 menit sampai mengeras. Angkat, olesi kuning telur dan taburi wijen.
  6. Panggang dalam oven yang telah dipanaskan dengan suhu 160C atau 325F sampai kekuningan.
  7. Angkat biarkan dingin lalu potong potong.



Hasilnya walaupun sama sama enak dan legit, tapi aromanya agak beda dikit. Kalau menurutku mungkin dari tepungnya. Paling bagus mungkin menggunakan tepung ketan kemasan yang masih baru (yang belum pernah dibuka kemasannya) atau sekalian yang fresh ditumbuk. Walaupun belum kadaluarsa tapi aroma tepung ketan kemasan yang sudah terbuka lama bedaaa...



Cenil

Cenil


Jajan yang satu in namanya mirip dengan teksturnya, cenil yang kenyil kenyil, hihi ^^
Biasanya aku makan kalo ada teman orang Jawa yang punya acara khusus dan biasa disajikan bersama klepon dan lopis dalam satu wadah. Aku lihatnya orang pada makan dengan disiram gula merah jadi dari dulu aku pikir cenil itu ya jajanan yang pake saus gula merah. Ternyata itu hanya karena makannya sama lopis jadi guyur saus gula merahnya sekalian.

Nah, tadi aku bikin ya. Dapat resep di Makan Bersama. Makasih buat Mbak Vivi Nowotny yang udah sharing resepnya ya. Tapi bingung aku...kok nggak ada gula merahnya. Lihat resep yang lain juga sama. Walaaaah artinya selama ini salah paham aku. Tapi kayaknya emang lebih enak deh pake gula merah. Jadi tadi aku tetap bikin saus gula merahnya just in case yang pake gula pasir nggak cocok sama aku. Dan memang ternyata anak anak, aku bahkan hubby sekalipun yang orang Jawa lebih senang diguyur gula merah. Tapi resepnya tetap aku tulis asli ya...supaya yang lain enggak ngikut ajaran sesat kayak aku....hihi.

Bahan :
- 250 gr tepung sagu tani
- 130 ml air mendidih
- 1/2 butir kelapa parut
- 1/2 lembar daun pandan
- garam sedikit
- pewarna memnurut selera
- air untuk merebus

Cara membuat :
  1. Campur kelapa parut dengan sedikit garam. Aduk rata. Kukus bersama daun pandan sekitar 15 menit. Angkat, sisihkan.
  2. Didihkan 130 ml air. Ambil 1 sdm tepung sagu tani, larutkan dengan 3 sdm air biasa, lalu tuangkan ke air yang mendidih tadi sambil diaduk cepat sampai kental. Angkat.
  3. Masukkan sisa tepung sagu tani, aduk dengan tangan sampai adonan kalis dan dapat dibentuk. Bagi 2 atau 3 adonan. Beri sedikit pewarna. Uleni sampai warna merata.
  4. Bentuk adonan sebesar kelingking atau sesuai selera.
  5. Didihkan air, rebus adonan tadi sampai mengapung dan matang, angkat.
  6. Gulingkan dalam kelapa parut dan taburi gula pasir secukupnya.

Cenil

Thursday, 8 March 2012

Pumpkin Bread

Pumpkin Bread

Pumpkin Bread

Karena ada labu sisa yang masih nganggur di kulkas, akhirnya tadi aku kukus sambil googling resep labu di internet. Dapatnya cake labu di "Just Try & Taste" yang ternyata resep aslinya adalah Pumpkin Bread ngambil dari "Simply Recipes". Kenapa namanya bisa beda?? yang satu cake dan yang satunya roti. Iya...kalau di luar negeri cake yang pake baking powder dan di taruh di loyang loaf juga disebut bread walaupun quick bread karena gak pake fermentasi. Contohnya banana bread and pumpkin bread ini. Sedangkan kalo di Indo yang namanya roti ya pake ragi. Tapi berhubung aslinya resepnya pumpkin bread ya aku namain itu aja, hehe

Resep aslinya bisa dilihat di Simply Recipes. Di bawah ini aku modifikasi sedikit...

Bahan :

- 200 gr tepung terigu protein sedang
- 200 gr gula halus
- 1/2 sdt garam halus
- 1 sdt baking soda
- 1 cup (sekitar 250 gr) labu kukus halus
- 120 ml olive oil
- 2 butir telur, kocok lepas
- 1/4 cup air (aku pake susu cair)
- 1 sdm bumbu spekku (aku bikin dari kayu manis, pala, cengkeh dan kapulaga)

Cara membuat :
  1. Panaskan oven 180C atau 350F. Olesi loyang loaf dengan margarine dan taburi ttepung.
  2. Dalam mangkuk, ayak tepung, soda kue, gula dan garam.
  3. Dalam wadah, campur labu, minyak, telur, bumbu spekku dan susu cair. Masukkan bahan campuran tepung, gula, soda kue dan garam. Aduk asal rata jangan overmix.
  4. Tuang di loyang loaf dan panggang sekitar 50 menit atau apabila ditusuk keluar dalam keadaan kering.

Pumpkin Bread

Pumpkin Bread


Wuiiiih, wanginya kue ini. Panas panas keluar dari oven aku olesi butter...haruuuumnya! Pas aku potong, teksturnya lembut di dalam dan garing di permukaannya. Sama sekali enggak ada trace bau olive oil, kayaknya ketutup sama bau bumbu spekku. Apalagi bumbu spekkunya homemade, bener bener wangi asli. Sayang bumbu spekkuku udah mau habis. Kayaknya harus segera bikin lagi nih tuk persediaan baking-bakingan berikutnya.

Enak dah pokoknya...cara tepat menghabiskan labu niy...hehe, beber bener gak nyesel!



Wednesday, 7 March 2012

Pomelo Salad

Pomelo Salad


Pomelo Salad


Tetanggaku panen buah jeruk Bali atau Pomelo. Tapi buahnya banyak sekali sedangkan tetanggaku itu nggak ada orangnya. Di sini kan perumahan kompleks karyawan, nah karyawan yang lama udah resign. Jadi rumahnya kosong deh. Tinggallah pohon jeruk Bali itu berbuah banyak tapi nggak ada yang panen. Akhirnya aku ambil tadi 2 biji. Lumayan...buah ini kan banyak juga khasiatnya tuk kesehatan.

Tadi aku bingung...mau dibikin apa jeruk Bali alias Pomelo ini. Dimakan seger gitu aja sudah, dirujak ama kecap udah, apa lagi ya...kalau dibikin rujak buah lha... buah buahanku nggak lengkap. Di kulkas cuman ada timun...kan gak seru tuh. Akhirnya googling dan ketemu salad Thailand dan salad Vietnam. Dua duanya hampir sama dengan menggunakan bahan dasar yang sama yaitu pomelo. Tapi pada salad Vietnam ada tambahan timun dan wortel yang diiris julienne. Akhirnya aku putuskan tuk bikin versiku sendiri. Dengan menggabungkan kedua resep di atas.

Bahan :

- 1/2 buah jeruk bali/Pomelo, kupas suwir suwir dagingnya
- 1/2 buah ketimun, kupas potong julienne
- 1/2 buah wortel, kupas potong julienne
- daun mint (berhubung nggak punya daun ketumbar)
- kacang sangrai, tumbuk kasar
- 250 gr udang, kupas lalu rebus, tiriskan
- cabe kering, remuk kasar

Saus :

- kecap ikan
- air jeruk nipis
- gula
- garam

Cara membuat :

  1. Campur jeruk bali, wortel dan ketimun. Tambahkan udang, aduk rata.
  2. Beri perasan jeruk nipis, gula, garam dan kecap ikan secukupnya. Aduk rata. Cicipi kalau kurang bumbu. Nanti gula akan larut dengan sendirinya seperti kalau bikin acar.
  3. Pada saat akan dihidangkan beri taburan kacang tanah dan cabe kering serta daun ketumbar kalau ada. Aku menggunakan daun mint aja.
  4. Siap disajikan. Paling enak dingin dingin dari kulkas.

Tuesday, 6 March 2012

Dangkot




Dangkot

Dalam rangka memeriahkan even bulanan Indonesian Food Party, untuk edisi Maret aku nyetor dangkot ini ke IFP host Mbak Tata dan Mbak Momon.

Dangkot adalah singkatan dari bahasa Toraja yakni daging kotek yang artinya daging bebek. Merupakan salah satu makanan khas daerah Toraja dan sekitarnya. Umumnya sih memang menggunakan daging bebek tapi karena di tempatku sini bebek nggak ada yang jual orang kemudian menggantinya dengan daging ayam kampung.


Yang khas dari lauk ini adalah rasa pedas dan aroma lengkuas sereh yang sangat kuat. Wangi memang...karena dimasak sampai kuah benar benar habis dan kering. Kalau dilihat penampilannya sama sekali tidak menarik. Ayam atau bebek dipotong kecil-kecil sekitar 2 centian. Tidak tterlihat lagi bentuk ayamnya...yang mana paha yang mana dada, dan seterusnya. Jadi bentuknya memang imut. Dan kelihatan serabut serabut lengkuas yang diparut/diblender menyelimuti ayamnya.

Resep aku dapat dari temanku Ulfah mamanya Caca tetanggaku yang baik hati, hehe. Karena bahannya semua sudah lengkap segera aku bikin. Umumnya rasa pedas didapatkan dari penggunaan cabe Toraja yang terkenal pedas. Bentuknya kayak paprika tapi mini-mini. Tapi aku tau kalo bikin mengikuti resep asli, di rumah anak anak bakalan nggak bisa makan karena kepedasan. Apalagi hubby nggak makan ayam...jadi masak aku suruh ngabisin sendiri?? hihi. Jadi aku tukar aja dengan cabe merah biasa dan jumlahnya pun sedikit saja. Lengkuasnya pun sebaiknya diparut untuk mendapatkan tekstur bumbu yang kasar, tapi demi keefisienan aku pake blender aja.

Bahan :
- 1 ekor ayam kampung, potong kecil kecil
- 1-2 bonggol lengkuas (tergantung ukuran)
- 7 batang sereh (ambil bagian putihnya)
- minyak secukupnya untuk menumis bumbu

Bumbu halus :
- 10 butir bawang merah
- 7 siung bawang putih
- 10 biji cabe rawit/cabe toraja (aku pakai 1 buah cabe merah)
- 2 ruas jahe
- 1 ruas kunyit
- 1/2 sdt merica
- garam secukupnya
- gula secukupnya

Cara membuat :
  1. Blender lengkuas dan sereh. Sisihkan.
  2. Blender bumbu halus. Kalau pada saat blender ditambahkan air maka air harus dihilangkan dengan cara memasak bumbu sampai airnya habis. Baru kemudian ditumis menggunakan minyak.
  3. Panaskan minyak goreng untuk menumis. Masukkan bumbu halus bawang dan bumbu halus sereh lengkuas. Tumis sampai wangi.
  4. Masukkan ayam lalu masak sampai ayam empuk dan matang. Tambahkan air sesekali apabila air menyusut dan ayam belum empuk.
  5. Setelah ayam betul betul empuk, terus mengaduk sampai ayam benar benar kering bumbunya. Nanti akan terlihat serabut dari bumbu yang sudah mengering. Matikan api. Angkat.
  6. Siap disajikan.

Coconut Custard Buns & Plaited Coconut Bread

Assalamualaikum. Selamat Hari Raya Qurban teman teman, semoga amal ibadah dan qurban kita diterima oleh Allah Subhanahu Wata'ala. ...